BLORA,Preventif.co.id – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sosok Sumarno (63) mungkin terlihat seperti Manol alias kuli panggul pada umumnya. Mengenakan pakaian sederhana yang sering kali basah oleh keringat, tapi terus semangat memindahkan beban berat dari satu tempat ke tempat lainnya jika diminta pedagang membutuhkan bantuannya. Bahkan bahunya yang tak sekuat sebagaimana waktu muda dulu ia terus menahan beban berat demi upah yang tak seberapa.

Kisah inspiratif Sumarno menjadi kuli panggul sejak 1985 hingga sekarang jadi kurang lebih sudah sudah 41 tahun.
Namun, di balik beban berat yang ia panggul setiap hari, pria yang usianya sudah berkepala 6 asal Desa Tunjungan, kabupaten Blora ini sedang memikul sebuah impian besar yang telah ia rawat selama dua dekade untuk Menunaikan ibadah haji.
Setelah menabung selama 20 tahun, keringat Sumarno akhirnya berbuah manis. Ia dijadwalkan akan berangkat ke Tanah Suci pada 5 Mei mendatang.
“Ada yang bilang waktu itu buat makan aja susah kok pengen naik haji, Saya kan minat naik haji, jadi saya terus berusaha,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Sumarno memulai aktivitasnya saat matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi. Mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB, ia bergelut dengan karung-karung di pasar. Dari pekerjaan fisik yang menguras tenaga itu, ia membawa pulang uang sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000 per hari.
Bagi banyak orang, angka itu mungkin hanya cukup untuk makan sehari.
“Dari hasil itu, saya sisihkan Rp4.000 sampai Rp5.000 setiap hari untuk ditabung. Niatnya memang untuk haji,” jelasnya, selasa (14/4/2026).
Kesetiaannya menyisihkan uang recehan selama 20 tahun menjadi bukti bahwa niat yang kuat mampu menembus batas logika ekonomi.
Jalan Sumarno menuju Baitullah bukannya tanpa hambatan. Seharusnya, ia berangkat pada tahun 2023 lalu.
“Segala persiapan sudah hampir matang, namun pandemi Covid-19 memaksa pemerintah melakukan pembatasan, dan jadwal keberangkatan pun tertunda,” imbuhnya.
Meski sempat kecewa, Sumarno memilih bersabar. Ia kembali ke pasar, kembali memanggul barang, dan kembali menunggu panggilan itu datang lagi. Kini, penantian panjang itu berakhir.
“Sangat senang, karena impian saya tiap kerja jadi keturutan. Alhamdulillah tahun ini bisa berangkat ke tanah suci,” tuturnya.
Namun keberangkatan untuk ke tanah suci sebenarnya ada satu ganjalan kecil di hatinya. Tahun ini, ia harus berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut seorang diri, tanpa didampingi sang istri.
“Berangkat sendiri karena istri belum siap. Meski begitu, dukungan keluarga tetap mengalir deras,” ucapnya.
Saat ini, tidak ada persiapan mewah yang ia lakukan. Sumarno hanya terus menjaga fisiknya dan tak putus memanjatkan doa.
“Saya cuma berdoa supaya diberi kesehatan dan kemudahan selama di Tanah Suci nanti,” tuturnya singkat.(Muh)












