Transformasi Dakwah di Era Digital: Peluang Besar di Tengah Tantangan Informasi

Oleh: Yuriqen Raesyah Ramadanisa Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Raden Intan Lampung

PREVENTIF.CO.ID -PERKEMBANGAN teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara umat Islam menyampaikan dan menerima dakwah. Jika dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, majelis taklim, atau pengajian tatap muka, kini dakwah hadir dalam genggaman melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, hingga podcast. Transformasi ini membuka peluang besar untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda yang aktif di ruang digital.

Menurut saya, transformasi dakwah di era digital membawa dampak positif sekaligus tantangan yang tidak bisa diabaikan. Dari sisi positif, media sosial memudahkan masyarakat memperoleh ilmu agama kapan saja dan di mana saja. Ceramah, kajian, hingga konten edukasi Islam dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Hal ini membuat penyebaran nilai-nilai Islam menjadi lebih cepat, efektif, dan menjangkau berbagai kalangan tanpa batas ruang maupun waktu.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan sisi negatif. Arus informasi yang sangat cepat sering kali membuat masyarakat menerima dan membagikan konten keagamaan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Akibatnya, kutipan ayat Al-Qur’an atau hadis yang tidak valid, ceramah yang dipotong sehingga mengubah makna, hingga hoaks bernuansa agama dapat dengan mudah menjadi viral dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Selain itu, para dai dan pendidik Islam kini dituntut memahami cara kerja algoritma media sosial. Dakwah yang dikemas secara kreatif, menarik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar menjangkau audiens, khususnya generasi muda. Namun, mengejar popularitas semata juga menjadi tantangan karena dikhawatirkan menggeser substansi dakwah menjadi sekadar konten yang mengejar jumlah penonton dan interaksi.

Di sisi lain, ruang digital juga menghadapi krisis etika. Fenomena ujaran kebencian, perdebatan mazhab yang tidak sehat, hingga saling menjatuhkan atas nama agama masih sering ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa etika komunikasi Islam atau *akhlak al-karimah* harus menjadi fondasi utama dalam berdakwah di dunia maya. Dakwah seharusnya menghadirkan kesejukan, persatuan, serta mengajak dengan hikmah dan nasihat yang baik, bukan justru memperuncing perpecahan.

Pada akhirnya, transformasi dakwah di era digital merupakan peluang yang sangat besar apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan Islam yang moderat (wasathiyah), damai, dan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, baik para dai maupun masyarakat perlu meningkatkan literasi digital, membiasakan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta menjaga etika dalam berkomunikasi. Dengan demikian, dakwah digital tidak hanya cepat tersebar, tetapi juga mampu memberikan manfaat dan menjadi rahmat bagi seluruh umat. (Red/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *