Harga BBM Non-Subsidi Turun di SPBU Seluruh Indonesia Mulai 23 Agustus 2025

Foto Ilustrasi SPBU Pertamina.

Jakarta,Preventif.co.idKabar baik, penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) seluruh Indonesia mulai tanggal 23 Agustus 2025.

Beberapa perusahaan penyedia BBM seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR, hingga PT Vivo Energy Indonesia, secara serentak melakukan penyesuaian harga untuk produk BBM non-subsidi.

Penyesuaian tersebut mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Dalam pembaruan harga ini, Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95 mengalami penurunan harga, sedangkan Dexlite dan Pertamina Dex justru mengalami kenaikan.

Harga Pertamax untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen (termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya) kini dijual Rp12.200 per liter, turun dari sebelumnya Rp12.500 per liter. Lalu, Pertamax Turbo harganya turun menjadi Rp13.200 per liter dari sebelumnya Rp13.500 per liter, dan Pertamax Green 95 kini harganya Rp13.000 per liter, turun dari Rp13.250 per liter.

Sementara itu, Dexlite kini dibanderol Rp13.850 per liter, melesat dari Rp13.320 per liter, dan Pertamina Dex dijual Rp14.150 per liter, meningkat dari Rp13.650 per liter. Harga BBM subsidi masih belum berubah. Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter, sementara Bio Solar bertahan di level Rp6.800 per liter.

Shell Indonesia juga menurunkan harga Shell Super dan Shell V-Power, tetapi menaikkan harga Shell V-Power Diesel. Perubahan harga BBM ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia, kebijakan pemerintah, dan strategi perusahaan.

Penurunan harga BBM non-subsidi memberikan kelegaan bagi masyarakat di tengah dinamika perekonomian. Masyarakat diingatkan untuk bijaksana dalam mengelola keuangan dan beradaptasi terhadap perubahan harga.

Pemerintah dan pelaku industri diharapkan terus berinovasi agar harga energi tetap terjangkau dan berkelanjutan.(*)

Editor (Megy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *